
Rp 27,500.00
Malam Kumpai Batu: Kumpulan Kisdap Banjar
Kategori: Kumpulan Cerpen
Penulis: Zian Armie Wahyufi, Jamal T. Suryanata, M. Rifani Djamhari, M. Fitran Salam, Aliman Syahrani, Nailiya Nikmah JKF, Dewi Alfianti, M. Fuad Rahman, Erika Adriani
Penyusun: Sandi Firly
Penerbit: Tahura Media
ISBN: 978-602-8414-15-9
Tebal: vi + 124 halaman
Ukuran: 12 x 18 cm
Sinopsis:
Kelak, yang mungkin tersisa dari identitas suatu masyarakat hanyalah bahasanya. Dan bahasa lebih terawat lewat catatan-catatan (baca: buku) tinimbang ucapan. Halnya bahasa Banjar, tak banyak yang bisa kita temui dalam buku-buku atau kertas-kertas yang memungkinkannya tetap bisa bertahan dan dibaca ulang hingga bertahun-tahun nanti. Pun pada budaya lisan, bahasa Banjar mulai tergerus oleh bahasa-bahasa yang lebih kuat dan arus globalisasi yang memungkinkan terciptanya bahasa-bahasa baru (bahasa gaul) yang dimanjakan oleh media massa terutama televisi.
Kenyataan itulah yang membuat keberadaan buku kumpulan kisah handap (Kisdap) bahasa Banjar ini menjadi cukup penting. Pada sembilan Kisdap dalam buku ini, yang ditulis oleh cerpenis Kalimantan Selatan dari beberapa generasi--mulai dari M. Fitran Salam (kelahiran 1959), Dewi Alfianti (kelahiran 1983), hingga Zian Armie Wahyufi (kelahiran 1991), memperlihatkan keragaman kosa kata (linguistis) bahasa Banjar. Sehingga memungkinkan ditemui kata-kata yang barangkali sudah nyaris tak pernah kita dengar lagi secara lisan, dan sebaliknya juga bisa saja muncul kata-kata atau ejaan yang sebenarnya sudah bertransformasi. Namun semuanya itu bisa menjadi "sah" karena hingga sekarang memang belum ada konvensi penulisan bahasa Banjar yang baku seperti halnya bahasa Indonesia.
Keberagaman bahasa Banjar ini juga menjadi niscaya karena dikenalnya bahasa Banjar Hulu dan bahasa Banjar Kuala. Ada anggapan bahwa bahasa Banjar Hulu lebih "tua" dan "murni". Kendati begitu, tak berarti bahasa Banjar Kuala menjadi tidak murni, atau telah terdistorsi oleh bahasa Indonesia atau bahasa asing lainnya.
Di luar perkara kosa kata dan ejaan bahasa Banjar, ke-9 Kisdap ini memuat unsur-unsur budaya yang hidup di dalam masyarakat Banjar. Seperti pada Kisdap karya M. Rifani Djamhari Malam Kumpai Batu yang menceritakan perjalanan para tokoh di dalamnya saat mengarungi sungai dari Pelabuhan Pasar Lama Banjar hingga Margasari, Marabahan. Atau tentang ilmu hitam yang di sebagian masyarakat Banjar masih dipercaya keberadaannya dalam Kisdap Balah Saribu karya Jamal T. Suryanata. Juga Anja karya Aliman Syahrani, menghidupkan tanda-tanda maut di lingkungan masyarakat Loksado, Hulu Sungai Selatan. Begitu pula pada Tagaian karya Erika Adriani, Bapintaan karya M. Fuad Rahman, Mangadap Langit karya Nailiya Nikmah JKF, dan Kisdap-Kisdap lainnya, yang terasa akrab dengan kehidupan masyarakat Banjar hingga hari ini.
Diharapkan ke-9 penulis Kisdap dengan masing-masing karyanya ini bisa menjadi semacam mewakili dalam penulisan karya sastra (Kisdap) berbahasa Banjar--yang tak saja menarik secara cerita, namun juga bisa menjadi bahan penelitian (bahasa Banjar) sejauh mana bahasa (Banjar) itu tetap hidup dan bertahan hingga kini. Akhirnya, selamat membaca dan manyalami.
Banjarbaru, 6 April 2012
Penyusun
Sandi Firly
Kategori: Kumpulan Cerpen
Penulis: Zian Armie Wahyufi, Jamal T. Suryanata, M. Rifani Djamhari, M. Fitran Salam, Aliman Syahrani, Nailiya Nikmah JKF, Dewi Alfianti, M. Fuad Rahman, Erika Adriani
Penyusun: Sandi Firly
Penerbit: Tahura Media
ISBN: 978-602-8414-15-9
Tebal: vi + 124 halaman
Ukuran: 12 x 18 cm
Sinopsis:
Kelak, yang mungkin tersisa dari identitas suatu masyarakat hanyalah bahasanya. Dan bahasa lebih terawat lewat catatan-catatan (baca: buku) tinimbang ucapan. Halnya bahasa Banjar, tak banyak yang bisa kita temui dalam buku-buku atau kertas-kertas yang memungkinkannya tetap bisa bertahan dan dibaca ulang hingga bertahun-tahun nanti. Pun pada budaya lisan, bahasa Banjar mulai tergerus oleh bahasa-bahasa yang lebih kuat dan arus globalisasi yang memungkinkan terciptanya bahasa-bahasa baru (bahasa gaul) yang dimanjakan oleh media massa terutama televisi.
Kenyataan itulah yang membuat keberadaan buku kumpulan kisah handap (Kisdap) bahasa Banjar ini menjadi cukup penting. Pada sembilan Kisdap dalam buku ini, yang ditulis oleh cerpenis Kalimantan Selatan dari beberapa generasi--mulai dari M. Fitran Salam (kelahiran 1959), Dewi Alfianti (kelahiran 1983), hingga Zian Armie Wahyufi (kelahiran 1991), memperlihatkan keragaman kosa kata (linguistis) bahasa Banjar. Sehingga memungkinkan ditemui kata-kata yang barangkali sudah nyaris tak pernah kita dengar lagi secara lisan, dan sebaliknya juga bisa saja muncul kata-kata atau ejaan yang sebenarnya sudah bertransformasi. Namun semuanya itu bisa menjadi "sah" karena hingga sekarang memang belum ada konvensi penulisan bahasa Banjar yang baku seperti halnya bahasa Indonesia.
Keberagaman bahasa Banjar ini juga menjadi niscaya karena dikenalnya bahasa Banjar Hulu dan bahasa Banjar Kuala. Ada anggapan bahwa bahasa Banjar Hulu lebih "tua" dan "murni". Kendati begitu, tak berarti bahasa Banjar Kuala menjadi tidak murni, atau telah terdistorsi oleh bahasa Indonesia atau bahasa asing lainnya.
Di luar perkara kosa kata dan ejaan bahasa Banjar, ke-9 Kisdap ini memuat unsur-unsur budaya yang hidup di dalam masyarakat Banjar. Seperti pada Kisdap karya M. Rifani Djamhari Malam Kumpai Batu yang menceritakan perjalanan para tokoh di dalamnya saat mengarungi sungai dari Pelabuhan Pasar Lama Banjar hingga Margasari, Marabahan. Atau tentang ilmu hitam yang di sebagian masyarakat Banjar masih dipercaya keberadaannya dalam Kisdap Balah Saribu karya Jamal T. Suryanata. Juga Anja karya Aliman Syahrani, menghidupkan tanda-tanda maut di lingkungan masyarakat Loksado, Hulu Sungai Selatan. Begitu pula pada Tagaian karya Erika Adriani, Bapintaan karya M. Fuad Rahman, Mangadap Langit karya Nailiya Nikmah JKF, dan Kisdap-Kisdap lainnya, yang terasa akrab dengan kehidupan masyarakat Banjar hingga hari ini.
Diharapkan ke-9 penulis Kisdap dengan masing-masing karyanya ini bisa menjadi semacam mewakili dalam penulisan karya sastra (Kisdap) berbahasa Banjar--yang tak saja menarik secara cerita, namun juga bisa menjadi bahan penelitian (bahasa Banjar) sejauh mana bahasa (Banjar) itu tetap hidup dan bertahan hingga kini. Akhirnya, selamat membaca dan manyalami.
Banjarbaru, 6 April 2012
Penyusun
Sandi Firly
