Judul: Rumah Debu (Novel Pilihan Ubud Writers & Readers Festival 2011)
Kategori: Novel
Penulis: Sandi Firly
Penerbit: Tahura Media
ISBN: 978-602-8414-11-1
Tebal:
Ukuran:
Harga: Rp. 35.000,-
Endorsement:
Novel ini memotret persoalan lingkungan dari dekat. Efek eksploitasi penambangan batubara dilihat pengarang dari perspektif peralihan moda transportasi. Dari situ kita tahu, bahwa pasca habisnya hutan Kalimantan dan batubara muncul sebagai andalan, perubahan penuh sengkarut pun mencuat tajam. Salah satunya, dangkalnya laur sungai yang menghubungkan hulu dan kuala, sehingga jalur air mulai ditinggalkan jika bukan diabaikan. Celakanya, peralihan moda transportasi dari sungai ke darat, justru diikuti lebih gencar oleh manajemen perusahaan tambang batubara. Mereka mengoperasikan ratusan truk pengangkut batubara dari Tapin (melewati Rantau, kota kecil yang merana) menuju Banjarmasin di kuala. Ratusan truk berderak setiap hari, bagai raksasa lapar di jalanan kota Rantau dan sepanjang jalan yang dilaluinya, menerbangkan debu ke rumah-rumah yang terbuka serta mendatangkan goncangan yang menakutkan bagi jiwa dan kehidupan para tokoh di dalam cerita ini. Yakni, mereka yang dipungut dari "rumah cahaya" tanah banua: para santri dan ustadz. Mereka tidak hanya bergulat dengan kajian kitab-kitab, juga mesti bersikap atas lingkungan duniawinya yang terancam. Dan itu sungguh tidak mudah. Penuh pertentangan dan pergulatan. Demi harga diri dan nilai percintaan.
Maka, debu dan goncangan truk-truk di jalanan itu sesungguhnya analog dengan, sekaligus menjadi latar, dari debu dan goncangan jiwa tokoh-tokohnya, dan dalam beberapa bagian bahkan terasa lebih dahsyat. Sudut pandang pengarang yang unik, saya kira menyumbang besar pada dimensi latar semacam ini.
(Raudal Tanjung Banua, Sastrawan dan Ketua Redaksi Jurnal Cerpen Indonesia)
Novel ini tampak ingin mengajak orang-orang di Kalimantan memahami kembali makna rumah. Rumah dalam pengertian kontemporer yang secara politik dibayangkan sebagai wilayah yang intim sekaligus asing. Rumah bagi seonggok jagung di kamar-kamarnya yang berdebu. Novel ini adalah merafor sosial bagi banua batubara.
(Sainul Hermawan, kritikus, dosen FKIP Unlam Banjarmasin)

