Judul: Saatnya Penulis Muslim MenggebrakKategori: Kumpulan Esai
Penulis: Aliansyah JumbawuyaPenerbit: Tahura MediaISBN: 978-602-84140-29-11
Tebal:
Ukuran: 14 x 21 cm
Harga: Rp. 25.000,-
Sinopsis:
Semakin banyak penulis Muslim semakin menggema dan tersebar syiar Islam. Apalagi menulis bisa jadi investasi dunia dan akhirat. Maka, tunggu apa lagi... Kinilah saatnya Anda menggoreskan pena!
Endorsement:
Saya menyambut baik kehadiran buku karya Aliansyah Jumbawuya berjudul Saatnya Penulis Muslim Menggebrak yang merupakan kumpulan sejumlah tulisan yang pernah diterbitkan di Serambi UmmaH.
Buku ini berisi pengalaman empirik yang dia jalani selama bertahun-tahun sebagai penulis sekaligus jurnalis. Walaupun dalam beberapa hal terkandung pula unsur teorinya, hal itu juga penting karena dalam dunia tulis-menulis diperlukan teori-teori tertentu. Namun, teori tersebut tetap harus sejalan dengan kenyataan di lapangan.
Bagi penulis Muslim khususnya, terlebih yang pemula, buku ini penting sekali untuk dibaca dan dijadikan referensi karena akan mampu memotivasi diri kita untuk sadar dan bangun dari 'tidur', selanjutnya aktif menulis dan menulis.
Saya yakin banyak calon penulis Muslim yang belum mengaktualisasikan diri dalam blantika kepenulisan. Kita tentunya selalu menunggu dan bergembira ketika ada penulis pemula yang hadir.
Mudah-mudahan Aliansyah terus produktif menulis. Dan buku ini akan disusul oleh buku-buku berikutnya.
Selamat!
(Drs. Ahmad Barjie B, penulis produktif)
Nampaknya, Ali (Aliansyah Jumbawuya) sangat konservatif dalam banyak hal. Tapi, keinginannya yang begitu besar untuk mengajak orang-orang gemar menulis dalam hal ini, tentu untuk kebaikan yang lebih patut diberi apresiasi yang besar. Pun, tradisi tutur-lisan yang begitu kental dalam masyarakatnya (urang banjar, khususnya di kalimantan selatan sendiri) menjadi perhatiannya yang sangat untuk mengatakan semacam kegemaran sehingga ia merasa perlu terus menulis dan memotivasi agar orang-orang mau menulis. Targetnya bukan hanya orang awam, namun juga para cerdik pandai yang menurutnya malas berbagi dalam tulisan. Ayo, bacalah buku ini, dan kemudian menulislah!
(Hajriansyah, penulis buku Jejak Air dan Angin Besar Menggerus Ladang-ladang Kami, tinggal di Banjarmasin)

