Judul: Musim Hujan Kali Ini
Kategori: Novel
Penulis: Kalpata 1234
Penerbit: Serambi
ISBN: 979-16-0133-X
Tebal: 306 halaman
Ukuran: 13 x 20,5
Harga: Rp. 37.000,-
Sinopsis:
Air mataku pun jatuh! Pertama kalinya karena seorang laki-laki. Apakah aku jatuh cinta?
Aku tak tahu jawabnya. Aku merasa belum berhak mengatakan mana yang disebut cinta dan mana yang emosi sesaat.
Jadi lebih baik menyingkir. Lebih baik lari sebelum seseorang melihat air mataku. Sebelum ada yang memvonisku sedang jatuh cinta. Dan, itulah yang akhirnya kulakukan.
Tapi, sebelum itu... Kuhampiri Fae sekali lagi. "Fae," panggilku dari belakang. Dan, saat dia menoleh...
Plakkk!!!
Baru setelah itu aku pergi, dengan mata berkaca-kaca, ke kamarku meninggalkan keduanya. Membiarkan mereka melakukan apa yang telah mereka putuskan.
Begitulah sikap Ve pada Fae, calon suaminya. ya cinta, ya benci. Sejak awal, Ve ngotot tidak mau menikah dulu, apalagi sang calon suami telah ditentukan ortunya. Namun apa daya. Seolah ditakdirkan selalu tak punya pilihan, Ve akhirnya menuruti kehendak ortunya. Setelah acara pernikahan dan kemudian hidup serumah pun, ia tak bisa membuat Fae lari darinya dengan sikap yang dibuatnya sinis, tak acuh, dan sering kali kejam. Celakanya, ia malah suka pada Fae yang hadir dalam hidupnya lewat perjodohan bak di zaman Siti Nurbaya itu. Apa yang sebenarnya terjadi pada diri Ve?
______________________
Inilah kisah sekeping pengalaman anak manusia dalam menyesap makna cinta. Liku-likunya nyaris dilalui oleh setiap orang, dengan bentuk yang berbeda tentunya. Sylvia Anggreini (21 tahun), tokoh utama dalam cerita ini, adalah mahasiswi cantik jelita dengan seabreg kegiatan: model iklan, pencinta alam, pemegang sabuk hitam karate .... Gaul dan memesona, tapi uniknya enggan berpacaran.
Bisa dibilang, sosok perempuan ini sangat melindungi diri dari cinta. Sifatnya meletup-letup dan terkesan tanpa pikir panjang. Ia pun sangat yakin dengan apa yang melintas di benaknya. Tetapi, ia acap ragu kala rencananya dilaksanakan. Alih-alih mengendalikan keadaan, dialah yang justru sering dikendalikan keadaan. Mungkin, inilah buah dari sikapnya memegangi kebenaran tapi pada tempat yang tidak semestinya.
Sikapnya yang pantang diatur terbentur oleh keputusan orangtua. Ia gigih melawan. Tapi ternyata ia bukan tipe gadis yang betul-betul pemberontak. Mungkin karena ia besar dalam sebuah keluarga harmonis. Nyatanya, seradikal apa pun memberontak, ia tetap berusaha menyelami kebaikan di balik kehendak orangtuanya.
Bersama Fae (25 tahun), Via berjuang menembus guyuran air di musim penghujan menuju sebuah genangan pengalaman berharga: “Berhasil menerima cinta dapat menjadikan kita sosok yang lebih baik."

